Hi, guest ! welcome to Yahoo!. | About Us | Contact | Register | Sign In
Tampilkan postingan dengan label Gereja Kemah Injil (KINGMI). Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Gereja Kemah Injil (KINGMI). Tampilkan semua postingan

Sinode Gereja Kemah Injil (Kingmi) Tetap Pertanyakan Surat Pangdam

DSC05018.gif
Kingmi Tetap Pertanyakan Surat Pangdam



PDF Afdrukken
Hari ini, Gelar Doa dan Ibadah di  Halaman DPRP
JAYAPURA—Ketua Sinode Gereja Kemah Injil Indonesia (Kingmi) Papua Pdt. Dr Benny Giay menegaskan, pihaknya menerima klarifikasi yang disampaikan Pangdam XVII/Cenderawasih Mayjen TNI Erfi Triassunu, bahwa dirinya tak menuding Gereja Kingmi Papua separatis sebagaimana yang disampaikan di hadapan pimpinan DPRP di ruang sidang Komisi A Senin (18/7).

Pasalnya, setelah menyimak dokumen yang dimuat pada situs online newmatilda.com terbitan Australia ternyata yang membuat dokumen tersebut  adalah Pangdam XVII/Cenderawasih Mayjen TNI Erfi Triassunu.

Namun demikian, lanjutnya, pihaknya tak sepakat serta tetap mempertanyakan kebijakan  Pangdam  membuat surat kepada institusi - institusi, serta memberi tekanan kepada Gubernur Papua Dr (HC) Barnabas Suebu SH untuk mempertimbangkan  pemberian dana sesuai dengan misi dari masing masing Gereja dan  bukan kepada Gereja Kingmi yang disatu sisi dituding  terlalu politis, serta tak murni menjalankan misi Kristiani di Papua.   

Sedangkan di sisi lain, TNI AD memberikan pembinaan kepada Gereja tertentu.  Ketua Sinode Gereja  Kingmi Papua Pdt.  Beny Giay  menunjukkan dua carik kertas berita terkait bocoran surat TNI/AD yang  mengungkap taktik  menakutkan dimuat  situs online newmatilda.com terbitan Australia pada Kamis (7/7) di Kantor Sinode Kingmi, Jayapura, Selasa (19/7).  

Menurut dia, guna menindaklanjuti ketaksepakatan dengan pernyatan Pangdam XVII/Cenderawasih Mayjen TNI Erfi Triassunu, maka Pengurus Gereja Kingmi Papua akan menggelar doa dan ibadah di Halaman Kanor DPR Papua, Jayapura pada Rabu (20/7) pukul 10.00 WIT.

Untuk membuktikan kebenaran pernyataan Pangdam XVII/Cenderawasih Mayjen TNI Erfi Triassunu, pihaknya memberikan dua lembar salinan pernyataan Pangdam XVII/Cenderawasih Mayjen TNI Erfi Triassunu yang dimuat di  situs online newmatilda.com terbitan Australia baik dalam  Bahasa Inggris maupun Bahasa Indonesia.   Bocoran sebuah surat kabar  dari seorang Jenderal TNI Angkatan Darat yang menunjukkan usaha- usaha pemerintah Indonesia untuk membubarkan satu Gereja di Papua dengan ancaman tindakan tegas.

Melihat dari luar  dan ke dalam konflik Gereja yang terakhir di Papua, mungkin kelihatan seperti contoh lain dari faksi politik Gereja Protestan. Tidak terlalu penting, mengapa dan siapa siapa yang  terlibat.
Tetapi teliti dan  galih lebih ke dalam lagi, kita menemukan sesuatu yang mengganggu.

Bocoran sebuah surat  dari pimpinan TNI Angkatan Darat di Papua  yang diterima newmatilda.com menyatakan bahwa konflik tadi bukan masalah internal Gereja: antara Gereja GKII yang umatnya tersebar di seluruh Indonesia dan Gereja Kingmi Papua yang memisahkan diri. Bocoran surat tersebut berhubungan dengan usaha pemerintah Indonesia untuk menindas gerakan-gerakan bagi kebanggaan budaya dan otonomi di tanah yang terus bergejolak di pinggiran Pasifik.

Intinya konflik itu menimbulkan pertanyaan apakah Gereja Kingmi Papua mempunyai hak untuk memisahkan diri dari GKII dan   mendirikan sebuah Sinode Gereja yang mandiri, kembali ke pengaturan /statusnya sebelum tahun 1982.

Pertanyaannya ialah: mengapa TNI AD terlibat? Mayor Jenderal Erfi Triassunu sudah melibatkan diri dalam konflik yang ia sendiri mengakuinya sebagai masalah internal Gereja. Di surat bernomor R/773/lv/2011 yang ditunjukan kepada Gubernur Papua, Barnabas Suebu, tertanggal 30 April 2011 dengan klasifikasi “rahasia”,   Triassunu” dengan hormat meminta “Gubernur untuk mengadakan suatu pertemuan antara GKII dan Kingmi  Papua. Sang jenderal juga menawarkan dirinya sendiri sebagai penengah.
Surat  itu seterusnya berbunyi”jika konflik  tak bisa dipecahkan  melalui dialog dan pembicaraan, tindakan tegas  harus diambil”.

Di dalam surat itu, Triassunu yang sebelumnya  bertugas di Aceh, melemparkan sejumlah  tuduhan. Ia menuduh Kingmi Papua berusaha mendapat uang sebanyak banyak mungkin dari Otonomi Khusus  dari pemerintah dalam  rangka menciptakan jemaat jemaat  baru. Tetapi tujuan nyata Gereja Kingmi membangun suatu jaringan Gereja, menurut Triassunu, ialah “untuk memperkuat cita cita masyarakat sipil orang Papua untuk kebebasan”.

Dalam surat itu juga menyatakan bahwa keinginan Gereja Kingmi Papua untuk menjadi  mandiri hanyalah suatu alasan Gereja itu untuk menjadi suatu sarana pendukung bagi perjuangan politik” Kemerdekaan Orang Papua.

Triassunu kemudian memberi sejumlah rekomendasi (usulan). Ia secara rinci mengatakan bahwa petugas Gereja Kingmi Papua seharusnya berpegang kepada    dogma Alkitab “ dan tidak masuk ke dunia politik. “Jenderal itu berdiri diatas landasan  kuat di sini, mengikuti jejak banyak diktator dari Marcos sampai Pinochet, yang terkenal karena melumpuhkan para imam yang dianggap usil  dan  kritis,”kata Benny.   
Triassunu secara khusus menyebut Pdt.Benny Giay (Ketua Sinode Kingmi Papua)  sekarang), Seblum Karubaba (   Ketua Sinode Kingmi Papua sebelumnya) dan Noakh Nawipa (Ketua STT Welter Post, Pos 7 Sentani, Papua) sebagai pimpinan Gereja yang tak puas, dan menyebutkan beberapa seminar yang diorganisir oleh trio itu di mana masalah “Papua Merdeka” dibahas.

Semua ini mempunyai gemah dari Soeharto  yang secara sistimatis melakukan depolitisasi (baca: dengan kasar membubarkan dan  menindas) semua organisasi mandiri, termasuk tokoh agama religius, karena takut mereka bisa menjadi basis untuk oposisi  yang diorganisir  melawan rezim itu.

Dikatakan, demokrat Indonesia mungkin telah menggulingkan Soeharto tetapi  Papua bukankah bagian  dari satu  Indonesia baru yang demokratis. Apa yang sangat memprihatinkan ialah  bahwa dalam konteks Papua lebel, “separatis secara teratur digunakan terhadap  para pemimpin Papua sebagai alasan untuk membenarkan tindakan tindakan keamanan negara di luar hukum/pengadilan.
“Inilah di mana alur cerita menebalkan.

Menurut surat tadi, sang jenderal memutuskan untuk terlibat dalam konflik setelah seorang pendeta GKII, Pdt. Karel Maniani, secara langsung meminta TNI AD untuk melindungi anggota jemaah gerejanya,”katanya.
 

Read More »
15.45 | 0 komentar

SUSUNAN BADAN PENGURUS SINODE PERIODE 2006 - 2009



SUSUNAN BADAN PENGURUS SINODE PERIODE 2006 - 2009






  1. PENASEHAT.

1.  BIDANG THEOLOGIA                                 : Pdt. Yosia Tebay. MA 
2.  BIDANG ORGANISASI                                : Pdt. Obed Nego Maury, S Th
3.  BIDANG HUKUM                                        : Drs. Ayub Kayame.
4.  BIDANG KEUANGAN                                  : Daniel Daat, SE

  1. BADAN PENGURUS SINODE.

1.  KETUA SINODE                                         : Pdt. Seblum Karubaba, MA
2.  WAKIL KETUA I                                          : Pdt. Yahya Lagowan, S Th
3.  WAKIL KETUA II                                         : Pdt. Melkias Kiwak, S PAK
4.  SEKRETARIS UMUM                                : Pdt. Dr. Noakh Nawipa, Ed.D
5.  WAKIL SEKRETARIS I                                 : Pdt. Willem Maury, S PAK
6.  WAKIL SEKRETARSI II                                : Pdt. Peniel Waker, S Sos Ag
7.  BENDAHARA UMUM                                  : Pdt. Agus Tebay, S Th
8.  WAKIL BENDAHARA I                                  : Nason Utti, SE
9.  WAKIL BENDAHARA II                               

  1. DEPARTEMEN – DEPARTEMEN.
1.    DEPARTEMEN PENDIDIKAN                     : Pdt. Noakh Nawipa, Ed.D
2.    DEPARTEMEN PENGINJILAN                   : Pdt. Jack Ikomou.
3.    DEPARTEMEN LITBANG                           : Pdt. Markus Kilungga, S Th
4.    DEP. PERDAMAIAN & KEADILAN              : Pdt. Dr. Benny Giay, Ph.D
5.    DEPARTEMEN SOSIAL & EKONOMI         : Bertus Tabuni, ST
6.    DEPARTEMEN PEMB PEREMPUAN           :Pdt. Ruth Adii, SMG
7.    DEPARTEMEN ANAK & REMAJA              : Ny. A. G Kayame
8.    DEPARTEMEN PEMUDA                           : Nn. Dolly Tebay, SKM
9.    DEPARTEMEN KAUM PRIA                       : Wempy Frasawi, BA

  1. KOORDINATOR KLASIS.
1.    KOORDINATOR PANTAI PAPUA                : Pdt. Akwila Marin, S Th
2.    KOORDINATOR JAYAWIJAYA                   : Pdt. Erson Wenda, S Th
3.    KOORDINATOR YAHUKIMO                      : Pdt. Simon Hilapok.
4.    KOORDINATOR PUNCAK JAYA                 : Pdt. Timotius Elatotagam.
5.    KOORDINATOR PUNCAK BARAT              : Pdt. Obed Bagau, S Th
6.    KOORDINATOR PANIAI TIMUR                 : Pdt. Daniel Utii.
7.    KOORDINATOR PANIAI SELATAN            : Pdt. Silas Pekei.
8.    KOORDINATOR NABIRE                            : Pdt. Musa Auwe, S Th
9.    KOORDINATOR YAPEN WAROPEN            : Pdt. Andreas Ainaga, Sm Th

Read More »
15.20 | 0 komentar

Pentahbisan Gedung Gereja Dan HUT Ke-31 Gereja Kemah Injil (KINGMI) Jemaat Eben-Haezer Klasis Nabire

Pentahbisan Gedung Gereja Dan HUT Ke-31 Gereja Kemah Injil (KINGMI) Jemaat Eben-Haezer Klasis Nabire


Nabire-Infomas,- Suasana hikmat, damai dan penuh suka cita serta haru itulah yang dapat dirasakan umat Tuhan yang menghadiri Pentahbisan dan HUT ke-31 Gereja Kemah Injil (Kingmi) Papua Jemaat Eben-Haezer Klasis Nabire Kabupaten Nabire Koordinator Teluk Cendrawasih yang berlangsung pada tanggal, 10 Oktober 2013 didepan Halaman Gedung Gereja Jemaat Eben-Naezer yang bersebelahan dengan Sekolah Tinggi Teologia Water Pos kampus II Nabire Cabang Jayapura.

Acara yang dimulai pukul 10. 30 WIT ini diikuti oleh kurang lebih 8000 orang yang terdiri dari anggota jemaat setempat, simpatisan, para undangan Muspida, tokoh-tokoh Agama, tokoh-tokoh Adat serta pimpinan dedominasi Gereja lainnya, diawali dengan nyanyian bersama “Mars Sinode Kingmi Papua” sambil dilakukan Prosesi Pemindahan Perabot dari Gedung Gereja yang lama untuk dibawah masuk ke gedung Gereja yang baru.

Ketua Panitia pembangunan Gedung Gereja Eben-Haezer dalam laporannya mengatakan beberapa hal yaitu dari awal pembangunan Gedung Gereja yang pertama banyak sekali tantangan, disamping itu dihadang dengan Bencana Alam pada tahun 2004 hingga pada tahun 2006 menghabiskan tiga buah gedung Gereja dan saat ini akan ditabiskan gedung gereja yang ke empat, dasar pembangunan Gereja adalah dari anak-anak sekolah minggu sekitar 500 anak yang memberikan semangat untuk kami membanggun, mendapat Bantuan dari Kementerian Agama Sebesar Rp. 160.000.- (seratus enam pulu juta rupiah) pada tahun 2006, melakukan aksi galangan tikar (Ebamukai) yang terakhir pada tanggal 17 agustus 2013, anggota jemaat berasal dari pelajar, mahasiswa,dan petani.

Lebih lanjut dikatakan oleh Ibu Christina Rumpaidum Giyai selaku ketua panitia HUT Jemaat Eben-Haezer yang ke-13 mengatakan bahwa: acara ini bisa berlangsung dan terlaksana oleh karena adanya swadaya dari jemaat berupa babi 20 ekor dan ayam 50 ekor dan juga Doa yang tak putus-putusnya dari anggota jemaat.
Pembacaan Sejarah Gereja Oleh Bapak Obeth Pekei, Menurutnya awal mula dibangunnya Gereja Eben Haezer ditandai dengan datangnya keluarga Missionari Tuan Sultd dan istrinya dari Belgia ke Papua (Nabire) pada tahun 1939, kemudian mengajar dan menetap di STT WP Tapioka kemudian membuka satu ruangan belakang sekolah yakni tempat pabrik tepung tapioka menjadi tempat Ibadah Minggu pagi yang kemudian di angkat Pdt.B.W. sumilat untuk melanjutkan dari tanggal 10-10- 1982 – 2013 dipakai hingga Sekarang dijadikan Gereja.

Pengguntingan pita dan pembukaan papan nama Gereja dilakukan oleh Kepala distrik Nabire, dan kemudian di lanjutkan dengan penandatanganan prasasti oleh Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Nabire Bapak Reki Lumentah S.Pd.K, diikuti dengan penyerahan kunci Gereja dari ketua Panitia Pembangunan Gedung Gereja kepada Ketua Klasis Nabire Bapak Pdt. Thomas Degey S.Th untuk membuka pintu Gereja, selanjutnya Ibadah berlangsung dalam gedung gereja yang baru.

Ibadah Penthabisan ini dilayani oleh Bpk Pdt. Mordekai Oilla S.Th, Sekertaris Klasis Nabire dengan releksi Firman Tuhan yang terambil dari Kitab Mazmur 133 : 1, dengan sorotan Thema Sinode: “Berubah untuk menjadi kuat”. dengan sub thema: Melalui pentahbisan Gedung Gereja dan HUT ke-31 jemaat Eben-Haezer kita tingkatkan kualitas hidup beriman, bersekutu dan beriman. Pada akhir dari khotbahnya mengatakan : Jabatan Harta Kekayaan yang kita miliki bukan berarti segalanya bagi kita tetapi persatuan merupakan berkat yang terindah dari Allah bagi kita.

Seusai ibadah dilakukan pemotongan kue Ulang Tahun yang dipandu oleh Ibu Damaris Pomong S.Th yang kemudian dibagikan kepada Ketua Klasis selanjutnya dibagikan kepada Gembala-Gembalanya sebagai pelayan dan penerus Gereja.

Bupati Kabupaten Nabire dalam sambutan yang dibacakan oleh Bapak Beny Karet S.Hum selaku Asisten III mengatakan bahwa; dalam usia ke-31 tahun ini GKIP telah berbuat banyak kepada Umat lebih khusus kepada pemerintah Daerah. Agar kedepan agar pelayan ini semakin baik maka perlu adanya kesadaran Iman, kesadaran untuk memberi dan adanya pemahaman yang sama untuk membangun masyarakat dan umat Tuhan di Kabupaten Nabire ini” ungkapnya. mengakhiri sambutannya, Beny Kareth, S.Hum menyampaikan sebuah Ungkapan yang mengatakan bahwa : Bertumbuh dalam Iman Berbuah dalam Kasih artinya : kita sebagai makhluk ciptaannya harus saling tolong-menolong dimanapun kita berada karena kita ini satu Tubuh yaitu tubuh kristus.

Mengakhiri seluruh rangkaian acara ini, Pdt.Marten Pakage S.Pak selaku Gembala sidang jemaat eben-haezer menyampaikan ucapan trima kasih semua pihak yang telah membantu hingga pembangunan Gedung Gereja Eben Haeser dapat diselesaikan, Pdt Marten Pakage berharap kiranya gedung Gereja ini dapat menjadi aset Klasis dan Sinode ditanah Papua dan kiranya kita selalu satu hati untuk melayani dalam rumahNya yang Kudus agar kita diberkati dalam kehidupan pribadi, keluarga, dan masyarakat. (Oktovince Boma) ,,,

Read More »
05.30 | 0 komentar

Gereja Kemah Injil (KINGMI) di Tanah Papua

 

AUTOKRITIK: MENJADI GEREJA PENYEMBUH



(Dari KINGMI Getah Ubi Ke KINGMI Getah Otonomi Khusus)
By: Dominggus Pigay


A.     Pengantar

Nakhoda perahu memeriksa dan menimbang dengan seksama perahu dan persediaan-persediaan lainnya dan pada akhirnya melihat kepada keadaan cuaca yang mengijinkan ( Mohamad Achmad)

Hanya engkau sendirilah yang akan menentukan masa depanmu. Engakau sendiri yang tahu kalau Tuhan sedang bekerja dalam dirimu. Karena engkau sendiri yang sedang berdialog secar pribadi dengan kekuatan luar ataupun kekuatan dari dalam dirimu sendiri. Mengenal diri sendri adalah pintu masuk untuk mengenal orang lain. Terlebih dahului bicaralah kepada dirimu sendiri sebelum engkau berbicara dan berdialog dengan orang lain. Karena lebih bermartabat jika  engkau berbicara dan mengkritik dirimu sendiri. Lantas apa program yang dapat dikembangkan sehubungan dengan Agenda Periksa Diri (autokritik), bagaimana menjalankan program Periksa Diri.

Ide ini ditulis dalam bingkai dan spritualitas yang ingin menempatkan gereja Kingmi sebagai pembawa obat yang dapat menyembuhkan sakit penyakit orang Papua. Ret-reat Depertemen Perdamaian dan Keadilan KINGMI Papua dalam kesempatan seperti ini obat yang akan mentahirkan penderitaan orang Papua.

Tanda orang papua sedang skait ialah menigkatnya angka kematian melalui:
  1. Tindakan pelanggaran HAM berat (1963-dewasa ini)
  2. Makanan beracun
  3. Minuman keras
  4. HIV?AIDS menigkat drastic
  5. Orang Papua dalam ambang pemusnaan etnis/genocida menurut laporan: Universitas Yale Amerika 2002 dan Universitas Sydney 2003, buku Sendius Wonda “Tenggelamnya Rumpun Melanesia” tahun 2007.
  6. Konflik internal gereja yang memanjang antara KINGMI papua dan Gereja Pusat (GKII) yang harus diakhiri melalui jalur pengadilan.
Tulisan ini secara sepintas akan menyinggung dan menampilkan potret wajah KINGMI Papua dalam tiga masa periodisasi sejarah. Ide-ide sejarah pelayanan ini adalah upaya  dari bagian pengenalan jati diri gereja. Kerena, sejarah ialah cermin diri. Pokok pikiran yang dirunut dari iktisar sejarah gereja, tidak lain adalah studi diagnosa.

B.     Periode KINGMI Getah Ubi (1962-1984)
Kingmi pre intergrasi dalam wadah GKII, lebih berfokus kepada pelayanan Pastoral dan bersifat rohani. Lebih memetingkan aspek penginjilan. Membuka pos-pos penginjilan, melipatgandakan umat, membuka sekolah-sekolah teologi, terjemahkan Alkitab, perbanyakan lagu kemenangan iman. Tenaga pelayan kingmi kebanyakan didorong orang-orang bumi putera. Misionaris berperan sebagai lembaga penyandang dana. Jemaat local menjadi oksigen yang menghidupkan atau membiayai kehidupan rumah tangga organisasi gereja. Gaji dibawah standar. Hidup dengan hasil kebun. Para pekerja gereja tidak dapat mengembangkan potensi sumber ekonomi. Kingmi masih dipengaruhi oleh tradisi teologi misi CMA yang lebih memuja kehidupan wetwrnisasi (kebarat-baratan). Kaum perempuan dilarang dilatik sebagai pendeta. Perempuan tidak diperbolehkan memimpin, mengajar atau berkotbah di mimbar gereja. Dalam hubungan dengan Keputusan Organisasi Gereja Ketua Sinode ikut pertemuan di Amerika Serikat.

Wibawa kepemimpinan gereja Sinode dan Klasis) dihormati. Dijemput dengan tari-tarian adapt. Sama seperti menjemput pimpinan pemerintahan. Mempunyai kewenangan untuk mengirim anak-anak papua untuk berpendidikan ke luar negeri ditentukan oleh Ketua Sinode Kingmi (Pdt. Dr. Benny Giay, Pdt. Dr, Noakh Nawipa dan Pdt. Geradus Adii di kirim ke Philipina)

Ada perang obano 1956 masyarakat membunuh anak dari Ch.D Paksoal yang bernama Rulland Lesnusa dan anak Rumaseb Pekerja Gereja Kingmi karena dituduh menyebarkan penyakit mematikan bagi babi dan melakukan tindakan pelehan seksual dengan memegang payudara para gadis saat itu.
30 Oktober 1961 Komite Nasional Papua berdebat membuat manifesto politik.

1 Desember 1961 ditetapkan sebagai Hari Kemerdekaan Papua Barat dibawah panji mendera bintang kejora yang dirancang oleh Pemerintah Kerajaan Belanda.

6 April 1962 konferensi I Gereja Kemah Injil dilaksanakan di Beoga dan melahirkan nama Gereja Kingmi Papua.

Perjanjian New York (Yew York Agreement) 15 Agustus 1962. Indonesia, Amerika Serikat dan Belanda menentukan status politik Papua Barat tanpa mengikut sertakan gereja dan orang Papua dalam menysun perundingan demi menentykan status politik Papua Barat.
1 Mei 1963 Papua dianeksasi oleh pemerintah RI.

Pecah perang revolusi politik di Paniai tahun 1969 pasca plebisit, Gerekan perjuangan Organisasi Papua Merdeka dan semangat ideology politik tumbuh subur dan menyebar. Papua diberlakukan daerah DOM (Daerah Opersi Militer oleh NKRI). Dengan berbagai operasi militer  banyak rakyat terbunuh. OPM hidup bergerilya memperjuangkan kemerdekaan politik di hutan-hutan. Buku-buku teologi di STP Kebo dibakar.

Pecah perang/gejolak social 1977 di Jayawijaya. Warga gereja di Walak, Pyramid, Dani Lembah terusir dari tanah airnya dan mengungsi ke hutan-hutan. Mereka lari kearah Kobakma menyebrang sungai Mamberamo dan hingga ke Papua New Guinea (PNG). Di hutan mereka berlatih militer sehingga membentuk Organisasi Papua Merdeka. Ada pula yang llari sampai ke Lereh. Mereka terserang sakit Malaria, kelaparan dan sakit maag. Banyak harta dan jiwa korban. Sekolah Teologi Pertama (STP) ditutup karena guru-guru dan siswa-siswanya mengungsi ke hutan-hutan.

Gereja KINGMI tidak terlibat dalam peran pembelaan terhadap gejolak social, ekonomi, politik atas warga gerejanya yang menjadi korban. KINGMI bisu dan tidak berdaya menyatakan kesalahan dan dosa militer, Negara. Teologi KINGMI belum mengembangkan fungsi pastoral terhadap para korban kekerasan militer, pembangunan, ideologi politik.

Diakui tenaga-tenaga ahli di bidang HAM, pengetahuan dan wawasan social politik yang lebih luas belum ada dan doktrin teologi CMA yang brsifat rohanisentris. Secara struktur belum ada Depatemen Perdamaian dan Keadilan.

Inikah gereja yang sehat. Apakah model gereja seperti ini ialah gereja yang telah menyembuhkan?

C.      GKII Wilayah Papua 1984-2005
KINGMI berintegrasi dengan gereja nasional di bawah payung Gereja Kemah Injil Indonesia pada tahun 1984 didorong oleh kepntingan Misionaris Amerika untuk mengurus visa tinggal di Indonesia. Misionaris CMA memberi ancaman kepada ketua Sinode Kingmi Papua Pdt. Yosia Tebay bahwa jika tidak bersedia berintegrasi dengan GKII: 1) Memberhentikan beasiswa bagi mahasiswa Papua yang sedang melanjutkan pendidikan di Sekolah Tinggi Teologi Jaffray Makasar Ujung Pandang. 2) Tidak melayani MAF ke daerah-daerah pedalaman.

Aspirasi papua Merdeka, Pelanggaran HAM atas warga gereja karena represif militer, kejahatan kemnusiaan diabaikan, pembakaran gereja tidak diperhatikan, penembakan atas para pekerja gereja dibiarkan. HAM dipandang sebagai bagian dari politik.

14 Desember 1988 di Lapangan Mandala Jayapura Dr. Tom Wanggai, MPA Memploklamirkan Kemerdekaan Negara Melanesia Barat. Seterusnya ia diadili didepan pengadilan negeri jayapura dan diberi vonis penjara dan diasingkan di Kalisoso.

18 Maret 1996 demosntrasi dan kerusuhan massal rakyat papua di jayapura karena tewasnya Thomas Wopai Wanggai di Penjara Kalisoso. Mayatnya dikirim ke Jayapura, namun masyarakat Papua belum melihat jasadnya, karena dihalangi militer.

Thaun 1996 basis wilayah pelayanan gereja kemah injil Irian Jaya yang meliputi klasis/daerah Mapnduma, geselama, Jila, bela dan Alama diserang militer dengan membakar gereja, menembak pendeta, memperkosa anak gadis, membakar rumah-rumah masyarakat dan kebun-kebun serta membunuh habis ternak piaraan masyarakat. Karena didorong oleh peristiwa penyerangan dan penyisiran militer tersebut maka Dr. Benny Giay bersama-sama dengan pihak GKI dan Katolik mendirikan El-SHAM Papua.  Saat itu mahasiswa dari GKII turun demo di depan gedung DPRD Irian Jaya dan bermalam disana selama tiga hari. Sementara itu GKII wilayah Papua mengadakan pengumpulan aksi dana melalui ibadah di gedung sasana krida. Ketua wilayah Papua Pdt. Jhon Gobay yang juga menjabat sebagai penasehat PT. Freeport terbang dengan helicopter bersama TNI-AD ke Jila, Mbela, Alama dan Geselama.

Pada 21 Mei 1998 terjadi Reformasi Nasional yang ditandai dengan lengsernya Presiden Soeharto. Orang Papua secara bebas mengekspresikan gerekan kemerdekaan melalui serangkaian aksi pengibaran bendera bintang kejora. Satgas Papua dibentuk. Bendera kejora dikibarkan dengan semangat di berbagai pelosok Tanah Papua.

Tahun 1999 di bentuk FORERI untuk memfasilitasi pertemuan yang dikenal dengan Dialog Nasional antara team 100 dan Presiden R.I.B.J.Habibie di istana merdekan Jakarta tanggal 26 Februari 1999. FORERI (Forum Rekonsiliasi Rakyat Irian Jaya) di ketuai Pdt. Dr.Benny Giay, Ph.D. Delegasi papua yang diketuai oleh Thom Beanal menuju ke Jakarta dan secara bulat team 100 minta Kemerdekaan Politik bagi orang Papua Barat.

Tahun 2000 Musyawarah Besar Papua dilaksanakan di Hotel Sentani Indah.Agus Alua,M.Th dan Taha Alhamid ditunjuk sebagai ketua dan sekertaris panitia Kongres Papua ke-2.

29 Mei-3 Juni 2000 Kongres Papua diselenggarakan di gedung Olah Raga Cenderawasih Jayapura. Kongres Papua membahas agenda pokok: 1) Pelurusan Sejarah Papua Barat, 2) Agenda Politik (Alat-alat Kenegaraan dan Symbol Politik: Bendera, Lagu Kebangsaan, dll), 3) Konsolidasi Komponen Papua,  dan 4) Hak-hak Dasar Rakyat Papua. Di sinilah dibentuk PDP (Presidium Dewan Papua) yang diketuai oleh Theys Hiyo Eluay. Wakil ketua Tom Beanal.

Tahun 2001 untuk mengakhiri pertarungan ideology papua merdeka yang dikobarkan oleh masyarakat semesta papua untuk memisahkan diri dari NKRI melalui mekanisme politik nasional (Dialog Nasional) dan mekanisme politik internasional melalui Dialog Internasional yang melibatkan PBB sebagai wasit. Serta meminta pengakuan kedaulatan politik Bangsa papua yang sudah diploklamirkan pada 1 Desember 1961. symbol politik bangsa papua barat. Kejora sebagai bendera nasional papua barat. Hai tanahku papua sebagai lagu kebangsaan. One people one soul sebagai adgium politik. Semuanya itu dijawab dengan Undang-Undang Nomor 21/2001 tentang Otonomi Khusus bagi Propinsi papua di bawah pemerintahan Megawati-Hamka Haz. Gubernur papua pertam yang mennikmati dan mengunakan uang otonomi khusus adalah Drs. Jaap Pervidia Solosa, M.Si. otonomi khusus adalah undang-undang konspirasi politik dan kejahatan global untuk mengeksploitasi dan sebagai mesin pencetak kekerasan dan kejahatan secara rapih dan sistematis.

10 November 2001 Theys hiyo Eluay Ketua Presidium Dewan Papua dibunuh oleh Korps Pasukan khusus (Kopasus). Mayatnya ditemukan warga di Koya Koso. Masyarakat membakar sejumlah toko di sentani sebagai bentuk protes. 2 tahu kemudian Pdt. Dr. benny Giay menulis buku “Tanggapan Mayarakat papua terhadap Kematian Theys Hiyo Eluay pada 10 November dan mengadakan acara beda buku di Aula STT I.S.Kijne. Pasca kematian Theys Hiyo Eluay seluruh gerekan aksi massa yang meminta kemerdekaan mati. Kelompok angkatan muda mulai bersuara sejak 2005.

7 Desember 2000 aparat kepolisian dari kesatuan brimob papua dan polresta jayapura menyerang pemukiman warga pegunungan tengah di jayapura dan asrama-asrama mahasiswa. Dari penyerangan tersebut menyebabkan terjadinya pelanggaran HAM berat. Kasus tersebut disidangkan di Makasar pada 7-8 Maret 2005 melalui pengadilan Ham berat berdasarkan UU No. 26 tahun 2000. Para pelaku yakni Jonny Wainal Usman (Kasat Brimob Irja) dan Drs.Daud Sihombing (Kapolresta Jayapura) sebagai tersangka diberi vanis bebas. 

Tahun 2002 konferensi wilayah ke 7 di Nabire, Biro Perdamaian dan Keadilan dibentuk. Pdt.Geradus Adii, M.Div terpilih sebagai ketua wilayah. Pemilihan ketua wilayah pada saat itu disinyalir ada unsure money politik.

Dalam Rapat Kerja GKII Wilayah Papua 2003 di Kam Key Aepura disepakati kembali ke Sinode Papua. Namun Rakernas GKII di Manado menolak ide kembali ke Kingmi Papua.

20 Juni 2005 Pdt.Geradus Adii,M.Div meninggal dunia. Benih konflik menyebar sampai ke serabut gereja yang paling  dalam sekalipun. Terjadi ketegangan antara Pusat di Jakarta dengan Gereja Kingmi Papua. Konflik antar warga gereja di Papua tumbuh dengan subur.

Juli 2005 Pdt. Paksoal (Ketua GKII Pusat) menertbitkan surat keputusan pengangkatan Pdt.Jhon Gobay, S.Th sebagai carateker ketua wilayah GKII Papua dengan memberhentikan Pdt. Seblum Karubaba sebagai ketua wilayah Papua . ibadah pelantikan dilaksanakan di gereja GKII Ebenhaeser Sentani. Massa Kingmi berdemonstrasi menolak keabsaan SK tersebut.

Pemilu 2005 banyak pendeta melibatkan diri dalam Partai Politik dan hendak menjadi anggota Legislatif. Ada tiga kelompok pandangan teologi politik yang berkembang dalam merumuskan keterlibatan Pendeta dalam Legislatif.

Kelompok pertama yang menganut teologi Hak Asasi Manusia berpandangan bahwa keabsahan hak berpolitik seseorang adalah mutlak. Tuhan mengaruniakan kebebasan kepada siapa saja untuk memilih dan menentukan arah dan tujuan hidup. Menjadi legislative adalah haka setiap warga Negara tanpa memandang status, profesi yang  melekat pada manusia sebagai son politikon (manusia adalah mahkluk yang berpolitik).

Kelompok kedua menganut Teologi Kristen Radikal. Kelompok ini mengklaim bahwa Pendeta adalah pelayan Tuhan di gereja (dalam peribadatan suci) tidak perlu mencemarkan diri dalam dunia politik. Politik sekuler harus dijauhkan dari kehidupan pelayanan suci. Politik dan gereja adalah bedah.
Kelompok ketiga, kelompok pendeta Liberalis. Kelompok ini memandang politik yang cemar perlu di garami dan diterangi dengan ajaran Kristus. Pendeta yang mempunyai ketahanan iman akan membawa nilai-nilai baru dalam menerangi lembaga legislative yang kehilangan kekuatan kebenaran.

31 Oktober 2005 Majelis Rakyat Papua dilantik oleh menteri dalam negeri pemerintah NKRI.
Tahun 2005 semangat perjuangan papua barat dikumandangkan kembali secara berkobar-kobar oleh kelompok-kelompok mahasiswa. Aksi demonstrasi missal yang dipelopori oleh organ-organ masyarakat papua mulai bertumbuh. Organ-organ yang dibentuk mempelopori gerakan kemerdekaan: Parlemen Jalanan Papua, Front Persatuan Perjuangan Rakyat papua barat (Front-Pepera), Solidaritas mahasiswa papua (SONAMAPA), Asosiasi Mahasiswa Pegunungan tengah Indonesia (AMPTPI), Aliansi Mahasiswa Papua, Koalisi Rakyat Sipil Papua, FNMP, Komite Mahasiswa Papua, FPNDPB, Komite Nasional Papua Barat (KNPB).

Juli 2005 dua orang anggota Kongres Ameriks Serikat Donald Payne dan Enny Valeomavaega menyatakan dukungan  terhadap Pergerakan Politk Papua ke dalam NKRI melalui PEPERA 1969, hal itu dituding tidak demokratis sehingga perlu ditinjau kembali. Referendum ialah solusi bagi Papua. Perjuangan kedua anggota konggres tersebut melahikan Rancangan Undang-Undang H.R.2601, yang selanjutnya akan di bahas di tingkat Senat Amerika.

Atas dasar kondisi dan eskalasi politik tersebut pada 4 Agustus 2005 di Jayapura dibentuk sebuah Badan “ Koalisi Nasional Bagi Papua Barat” (West Papua For National Coalization). Badan ini akan mengakomodir semua komponen perwakilan masyarakat, faksi-faksi perjuangan yang bertujuan memerdekakan bangsa Papua. Badan ini akan menghimpun tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh perempuan tokoh pemuda dan seterusnya. Bandan ini dibentuk dalam rangkah mengkaunter orang papua, baik yang ada dalam negari seperti pejabat-pejabat pemerintah yang ada di tingkat propinsi, pusat atau kelompok masyarakat lainnya yang hendak menjadikan kendaraan demi kepentingan kekuasaan Indonesia untuk berbicara diluar negeri tentang ststus Papua tanpa mendapat dukungan atau izin dari KNBPB. Atau orang Papua dan orang asing lainnya yang berada di luar negeri untuk berbicara.
6 Agustus 2005 Tokoh-tokoh agama Papua diantaranya: Leo Laba Ladjar OFM (Uskup Jayapura), Drs. Husein Dg Zubaer (MUI), Pdt.Herman Saud, M.Th (Ketua Sinode GKI di Tanah Papua), Pandita Arya Bohdi Jasmani (Sekertaris Budahyana Provinsi Papua), dan Drs. I Wayan Sudha (Ketua Parisada Hindu Dharma Propinsi Papua) mengadakan konfrensi pers di kantor Keuskupan Jayapura menyikapi keberadaan RUU HR 2601. mereka menyatakan kesepakatan bersama bahwa: Jaga Papua Tanah Damai.

31 Agustus 2005 Dr. Naokh Nawipa memberikan seminar tentang kekerasan dalam pendidikan teologi di tanah Papua. Kekerasan yang ditampilkan berpijak pada teori Johan Galtung dan Dom Helder Camara tentang Spiral Kekerasan.

14 november 2005 Sekolah Tinggi Teologi Walter Post bekerja sama dengan Persekuatuan gereja-Gereja Baptis Papua menyelenggarakan seminar beda buku yang ditulis Pdt. Sofyan Yoman yang berjudul “ Orang Papua Bukan Separatis, Makar dan OPM dan Penentuan Pendapat rakyat (PEPERA) 1969 Tidak Demokratis. Acara beda buku dan seminar ini dilaksanakan dalam rangka menyambut peluncuran buku Penelusuran Sejarah Papua yang ditulis oleh Prof. dr. Drooglever di negeri Belanda. Tampil sebagai pembeda buku: Aloysius Renwarin, SH, Dr. Benny Giay, Sofyan Yoman. Dr. Noakh Nawipa bertindak sebagai moderator dan Dominggus Pigay sebagai notulis. Peluncuran buku ini dilaksanakan di aula STT Walter Post Jayapura.

15 Februari 2005 Prof. Dr. Drooglever meluncurkan buku tentang Pelurusan Sejarah Papua. Dilapangan Trikora Abepura Bnedera Aliansi Mahasiswa Papua dan Front PEPERA berkibar. Mereka melakukan demonstrasi damai dengan orasi-orasi.

16 Maret 2006 Abepura berdarah. Empat orang aparat milter tewas dalam aksi demonstrasi mahasiswa yang menuntut Perusahan PT.Freeport ditutup. Dampak peristiwa itu menyebabkan  banyak mahasiswa lari kehutan-hutan dan Selfius Bobii beserta teman-temannya ditangkap dan dipenjarakan.

Inikah gereja yang telah menjadi Gereja Penyembuh?  

D.    Kingmi Getah Otonomi Khusus
Kingmi yang kini kembali melalui Amandemen pasal 19 Ayat 2 dan 3 dalam Konfrensi Nasional Maret 2006 di Kinasi Bogor  keluar dengan kepentingan Otonomi Khusus sebagai landasan hukum formal.
Kingmi disahkan melalui Konferensi Wilayah ke-8 di Nabire. Pengurus Sinode yang terbentuk disebut Sinode transisi. Lama kepengurusan 3 tahun 2006-2009.

Kepengurusan sinode ditunjuk dalam Konferensi GKII Wilayah ke-8 di Nabire berdasarkan utusan suku dan daerah. Bukan berdasarkan Potensi dan Karunia. Yang ditunjuk sebagai ketua Sinode adalah Pdt.Seblum Karubaba, S.Th, MA, Dr. Noakh Nawipa,Ed.D sebagai Sekertaris Umum dan Pdt. Agus Tebay, S.Th sebagai Bendahara Umum.  Representasi cultural dan dan Etnis menjadi tujuan dan sasaran pokok. Pdt. Paul Paksoal sebagai Ketua Umum tidak menghadiri pertemuan itu. Program Kerja D4 (Doa, Data, Daya dan Dana) dengan tema “Berubah Untuk Menjadi Kuat” (Roma 12:1-2) disepakati untuk dilaksanakan.

 30 Desember 2006 terjadi penyerangan, pemukulan, dan pengrusakan Kantor Sinode Papua oleh pihak GKII Wilayah Papua. 

Februari 2007-2008 Paul Paksoal menggugat Kingmi Papua di Pengadilan Negeri kelas I A Jayapura dan Pengadilan Tinggi jayapura dengan pokok perkara Kepemilikan Asset. Kingmi menang mutlak atas dua perkara berturut tersebut. Yang menjadi Kuasa hukum Kingmi Papua adalah Stev Waramori, SH dan Godlief Mansi, SH.

30 April 2007 Pengadilan kelas I A Jayapura menolak semua gugatan yang diajukan oleh Pdt. Paul Paksoal Ketua Umum GKII di Jakarat yang menggugat Pdt.Seblum Karubaba atas nama sinode Kingmi.

Kopasus dan satgas merah putih mendampingi Sinode Papua saat ibadah Pengucapan Syukur 20 Juni 2007. Sedangkan Kepolisian mendampingi GKII untuk menurunkan Papan Nama Kingmi Papua yang baru ditabiskan. Pada tahun 2007  itu juga dibentuk PT.Kemah Papua. Pdt. Dr.Noakh Nawipa ditunjuk sebagai Direktur Utama.

Asia Internasional Finance mengkampanyekan program global warming “upaya penyelamatan hutan dari ancaman pemanasan global” dalam Pekan Rohani Olah raga dan Seni Departemen Pemuda Kingmi Papua di Timika pada Oktober 2007 dengan membantu dana sebesar Rp.600 juta. Membagi baju kaos sebagai bentuk kampaye public.

Pdt. Henrik Willem membangun mitra dengan Kingmi Papua, menyelengarakan kebangunan rohani diseluruh tanah Papua dan Indonesia. Tim KKR ini dinamakan Papua Propetic Call (PPC).
Juli 2010 konferensi perdana Kingmi Papua di Wamena. Konferensi berjalan cukup alot. Dalam Konfrensi tersebut Pdt.Dr. Benny Giay terpilih sebagai ketua sinode Gereja Kingmi Papua yang baru.      

Read More »
05.29 | 0 komentar

Ini Pesan Benny Giay : 51 Tahun KINGMI Papua

Penulis : Yermias Degei 
Gereja Kemah Injil (KINGMI) Papua, Dr. Benny Giay. Foto:Ist


Jayapura, MAJALAH SELANGKAH -- Hari ini, Sabtu, (6/4/13), Gereja Kemah Injil (KINGMI) Papua merayakan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-51. Perayaan ibadat syukuran digelar di Klasis masing-masing di tanah Papua. Perayaan di Jayapura dipusatkan di Gedung Olah Raga.

Bertepatan dengan perayaan HUT ke-51 ini, Ketua Sinode, Pendeta Benny Giay menyampaikan tiga pesan penting secara tertulis kepada jemaat yang dipimpinnya. Sambutan tertulis dibacakan pada perayaan syukuran di masing-masing Klasis.

Pesan pertama Doktor Benny lebih menekankan kembali nazar yang telah dibuat pegurus KINGMI Papua pada saat perayaan 50 tahun KINGMI Papua (Pesta Emas) pada 6 April 2012 lalu di Gedung Olah Raga (GOR) Jayapura, Papua.

"Merayakan HUT KINGMI tahun ini secara baru. Tidak asal merayakan HUT ini. Ini berarti kita rayakan HUT ini dengan sadar akan nazar yang telah kita buat tahun lalu pada tanggal 6 April 2012, bahkan kita akan menjaga gereja ini, baik baik itu baik waktunya maupun tidak,"demikian isi pesan pertama.

Pesan kedua dititikberatkan pada perdamaian di Papua dan ajakan kepada warga untuk kembali kepada budaya kerja serta disiplin. Juga, ia tekankan soal menanam benih-benih kehidupan dengan perhatikan pendidikan anak.
"Tindakan kita dalam perayaan tidak hanya di situ. Kita mengambil tanggung jawab untuk menabur kenih kedamaian, kemajuan perdamaian, kerja keras, disiplin (Mazmur 126:5-6) mulai di keluarga. Jadikan momentun perayaan ini sebagai saat untuk membaharui semangat dan janji untuk menjadi:jemaat, keluarga, klasis, koordinator, atau Sinode yang menanam benuh, membesarkan anak-anak kita dalam iman dan firman Tuhan tetapi juga mengarahkan dan mendisiplinkan anak-anak untuk pergi ke sekolah. Ingat, Gereja (keluarga, jemaat atau orang tua) yang mendorong anak-anaknya taa firman Tuhan dan memperhatikan pendidikan anak-anak, gereja itulah yang menabut benih ...,"bunyi pesan kedua.

Pesan ketiga, Benny mengajak berhenti menyebarkan, gosip, pikiran dan cerita yang merusak. Cerita yang seperti itu dapat merusak masyarakat dan terutama anak-anak.  

"Menjadi gereja yang menabur benih berarti kita semua berubah untuk menjadi kuat dengan BERHENTI jadikan keluarga sebagai tempat menceritakan kejelekan gereja lain, menyebar berita  yang merusak hubungan dengan sesama, atau gosip atau kebencian kepada suku, atau marga yang dulu baku perang. Kepada semua jemaat KINGMI, kami himbau untuk hentikan kebiasaan menyebar pikiran dan ceritera yang merusak, yang berpotensi merusak anak-anak kita yang mendengarkan pembicaraan kita,"tulis Benny di pesan ketiga.

Pada bagian akhir pesan itu, Benny menekankan kembali kepada jemaat untuk menabur dengan mencucurkan air mata dan berjalan maju dengan menangis. Pesan ini disampaikan sebagaimana tercantum dalam Mazmur, 126:5,6). (MS)

Read More »
09.50 | 0 komentar

TUGU PENGINJILAN KINGMI PAPUA DI BEOGA SIAP DIRESMIKAN

Jayapura, 1/6 (Jubi) -Sebuah tugu peringatan berdirinya Gereja Kingmi Tanah Papua yang dibangun di kampung Beoga, Kabupaten Puncak, Papua, dalam waktu dekat, akan diresmikan.

Ketua Sinode Kingmi Tanah Papua, Dr. Benny Giay menjelaskan bahwa pembangunan tugu di Beoga dicanangkan pada 6 April 2012 lalu saat perayaan 50 tahun Yubileum .
Tugu atau situs di Beoga ini, katanya, dibangun untuk menghargai dan menghormati para perintis Gereja yang telah mengorbankan diri mereka sepenuhnya dalam pelayanan Injil kepada umat di Tanah Papua.

“Rencananya tugu ini akan diresmikan oleh Gubernur Papua, Lukas Enembe pada hari Rabu, (4/6) 2014 di Beoga,” kata Giay kepada tabloidjubi.com di Kota Jayapura, Minggu (1/6).
dia mengatakan, Gereja Kemah Injil (Kingmi) di Tanah Papua setelah berkarya dan menggembalakan umat Allah selama 50 tahun lebih. Tugu dibangun di kampung Beoga, tepat dimana 52 tahun lalu diadakan rapat pertama kali lahirnya Gereja Kingmi di Tanah Papua. Pdt. Dr. Benny Giyai, akan tampil sebagai pengkotbah tunggal dengan tema utama “Injil itu kekuatan Allah” (Roma 1: 16-17).

Sementara itu, Sekretaris Sinode Kingmi Papua, Pdt. Yosia Tebay mengharapkan, pendirian tugu tersebut mesti dimaknai sebagai kehadiran Tuhan melalui pelayanan dan karya kegembalaan sejak dahulu hingga kini di Tanah Papua.

Kata Pendeta Tebay, Injil Tuhan diterima orang Papua, sehingga segala bentuk diskriminasi dan kekerasan di Tanah Papua harus diakhiri agar impian Papua Tanah Damai benar-benar terwujud.
Salah satu panitia peresmian Tugu Injil di Beoga, Benny Pakage menambahkan, banyak pihak akan menyaksikan kegiatan keagamaan yang penuh makna itu. Tak hanya dari kalangan Kingmi, pimpinan Gereja lain bakal menghadirinya.

Sejarah mencatat bahwa 52 tahun yang lalu, para hamba Tuhan orang pribumi dipanggil pimpinan C&MA (Cristian and Missionary Alliance) untuk berkumpul di Beoga, sebuah kampung yang menjadi Pos Penginjilan.

Dalam pertemuan di Beoga, para misi C&MA memberitahukan bahwa mereka akan pulang ke negaranya, sehingga orang pribumi harus menerima tongkat penginjilan yang dirintis C&MA sejak 1939 itu walau berbagai tantangan dan dalam ketidakberdayaan kala itu.

Sejak hari itu juga para misi penginjilan dari C&MA pindahtangankan Gereja Kemah Injil (Kingmi) kepada orang pribumi Papua. Dengan diserahkannya misi penginjilan kepada orang pribumi Papua, maka muncul embrio berdirinya Gereja Kemah Injil (Kingmi) di Tanah Papua, tanggal 6 April 1961.

Saat itu masyarakat suku Damal di kampung Beoga menyambut pendirian gereja Kingmi. Mereka merayakan kesiapan untuk membangun gereja ini ke depan dengan mengadakan pesta buah merah (bakar batu) sebagai tanda janji iman bahwa mereka akan membangun gereja ini dan menjalankan amanat agung Yesus Kristus untuk menjadikan seluruh umat di bumi sebagai muridNya. (Jubi/Markus You)


Read More »
09.41 | 0 komentar

Profil Gereja Kemah Injil Indonesia (GKII)

Gereja Kemah Injil Indonesia

Gereja Kemah Injil Indonesia
Logo Gereja Kemah Injil Indonesia.jpeg

 Logo GKII
Klasifikasi Protestan
Pimpinan Gereja Pdt. Paul Paksoal, M.Div
Wilayah Penyebaran Indonesia
Situs web resmi Situs Resmi GKII
Perkembangan
Didirikan 10 September 1930 di Makassar, Sulawesi Selatan
Statistik
Anggota 507.083 orang
Gereja Kemah Injil Indonesia (disingkat GKII, dahulu KINGMI) adalah suatu kelompok gereja Kristen Protestan di Indonesia yang bermula dari Sulawesi Selatan.


Sejarah

Dr. R.A. Jaffray sama halnya dengan A.B. Simpson. Keduanya sama-sama keturunan Skotlandia, berkebangsaan Kanada, lahir dan dibesarkan dalam keluarga kristen, anggota Gereja Presbiterian. Keduanya juga sama-sama telah mendapat penglihatan khusus mengenai dunia – orang-orang yang belum percaya Yesus dan bertindak berdasarkan penglihatan mereka itu sehingga melalui pelayanan mereka, di kemudian hari beribu-ribu orang bertobat dan menerima Yesus Kristus sebagai Juruselamatnya.
Ketika masih muda, R.A. Jaffray pernah mendengar Simpson berkhotbah, dan saat itu juga Jaffray menyerahkan dirinya untuk siap pergi, melayani di luar negeri sebagai misionari (utusan injil). Kemudian Jaffray masuk Sekolah Alkitab Simpson dan setelah tamat serta mendapat pengalaman menggembalakan Jemaat, Jaffray memutuskan untuk memulai pelayanannya sebagai Misionari (Utusan Injil).

Surat Kabar GLOBE di Toronto, Kanada, melaporkan upacara pelantikan dan penahbisan yang diadakan pada tanggal 20 Januari 1896 sebagai berikut:

”Dr. Albert Benyamin Simpson dari New York telah mengambil bagian dalam kebaktian penahbisan dan pelantikan Robert Alexander Jaffray. Ia yang memimpin doa untuk utusan Injil yang akan pergi ke negeri Tiongkok ini. Suasana khdmat meliputi Bethel Chapel, Toronto, ketika tujuh orang Badan Pengurus Jemaat itu menunmpangkan tangan ke atas kepala duta Allah yang masih muda ini. Dengan kesungguhan hati Simpson menyerahkan Jaffray kepada Allah untuk pelayanan suci sebagai pendeta yang akan menggembalakan umatNya. Tidak sedikit di antara orang-orang yang hadir itu mengaminkan permohonan doa Simpson atas Jaffray, agar Tuhan memakai Jaffray bukan hanya untuk memenangkan pribadi-pribadi, tetapi juga bangsa-bangsa, bagi Kristus.”

Allah menjawab doa yang disampaikan oleh A.B. Simpson, pendiri C&MA ini melalui pelayanan yang dilaksanakan oleh Robert Alexander Jaffray, di kemudian hari.
Sejak dilantik menjadi utusan Injil pada tahun 1896, R.A. Jaffray melayani di Tiongkok Selatan selama kurang lebih 32 tahun; Jaffray mendirikan Chinese Foreign Mission Union (CFMU); berhasil menanam gereja; membangun sekolah Alkitab yang berpusat di Wuchouw dan membangun lembaga penerbitan khususnya untuk komunitas yang berbahasa Kanton (Cantonese). R.A. Jaffray mulai perjalanannya ke Indonesia (kepulauan Hindia Belanda) dan menjejakkan kakinya di Borneo (Kalimantan) pada tanggal 10 Februari 1928. Inilah perjalanan pertama Jaffray ke Indonesia untuk mengadakan Survey sekaligus memberitakan Injil.

Setelah kembali ke Tiongkok Selatan, maka untuk mewujudkan kerinduan Jaffray akan pelayanan dan tuaian yang sangat besar di Indonesia, terutama pelayanan yang diawalinya di Kalimantan – kota Samarinda dan Balikpapan dan sambil menunggu kedatangan para utusan C&MA yang sedang disiapkan di Amerika dan Kanada, maka pada bulan Februari 1929, Jaffray membawa dua hamba Tuhan yang diutus oleh CFMU, suatu organisasi penginjilan yang didirikan oleh Jaffray di Tiongkok Selatan yaitu: Yason S. Linn dan Paul R. Lenn – mereka adalah tamatan dari Wuchow Bible School - untuk membantu pelayanan yang dimulainya di kalangan orang Tionghoa di Kalimantan Timur dan kota Makassar, Sulawesi Selatan.

Pada bulan Juni 1929, R.A. Jaffray pergi ke Saigon, Vietnam untuk menyambut kedatangan rombongan pertama utusan C&MA yang dikirim dari Amerika dan Kanada ke Indonesia. Pada tanggal 29 Juni 1929, rombongan yang terdiri dari: George dan Anna Fisk, Wesley dan Ruby Brill serta David Clench – tiba di Surabaya, Jawa Timur. Tak seorang pun yang menduga bahwa di kemudian hari betapa luasnya pekerjaan Tuhan yang dimulai oleh C&MA di Indonesia.

Setibanya di Surabaya, Jaffray yang fasih berbahasa Mandarin ini langsung mengadakan kontak dengan orang-orang Tionghoa. Keesokan harinya mereka mendapat kesempatan untuk melayani dalam kebaktian penginjilan di salah satu gereja Tionghoa (kemungkinan besar gereja inilah yang mendesak Jaffray untuk meminta agar dikirim seorang utusan injil. Penginjil T.H. Loh, lulusan Sekolah Alkitab Wuchow, dikirim dan menjadi CFMU/C&MA pertama ke pulau Jawa – menggembalakan jemaat Kanton di Surabaya itu). Menurut catatan Jaffray, waktu kebaktian penginjilan dilaksanakan, ada enam (6) pria yang menyerahkan diri untuk didoakan. Itulah buah sulung dari suatu panen besar yang nantinya akan dituai di beberapa tempat di Indonesia.

Tanggal 1 Juli 1929, Jaffray dan rombongan dari C&MA, berangkat ke Batavia (sekarang Jakarta) dengan kendaraan darat. Tanggal 4 Juli 1929 – Jaffray mengunjungi pejabat pemerintah Belanda di Jakarta. Jaffray menulis hasil kunjungannya sebagai berikut:

”wawancara kami dengan Konsul Zending (Kepala Dewan Pengutusan Injil) berjalan dengan lancar. Kami mengajukan permohonan agar diberi izin untuk melayani di Kalimantan dan Lombok (NTB). Kami sungguh mengucap syukur kepada Allah atas kerja sama yang baik dari Pemerintah Belanda. Seandainya mereka tidak mau memberi izin, secara manusia kami tidak dapat berbuat apa-apa di Indonesia.”

Sekembalinya ke Surabaya, para utusan Injil C&MA tersebut berpisah untuk memulai pelayanan masing-masing. Tanggal 19 Juli 1929 - David Clench berangkat ke Balikpapan, Kalimantan Timur; keluarga Wesley Brill ke Lombok, NTB; dan keluarga George Fisk ke Tarakan, Kalimantan Timur. Sedangkan R.A. Jaffray sendiri kembali ke Tiongkok Selatan.

R.A. Jaffray menyadari bahwa pelayanan C&MA di Indonesia tidak dapat berkembang hanya dengan diawasi dari jauh. Karena itu, Jaffray memutuskan untuk menetap di Indonesia. Keputusan ini, pada awalnya tidak mendapat dukungan dari C&MA, disebabkan karena C&MA yang berpusat di Amerika Serikat pada waktu itu sedang mengalami krisis finansial atau yang dikenal dengan Great Depression, dan mereka hanya merestui pembukaan pelayanan di Indonesia, namun tidak menjanjikan dukungan apapun. Visi Jaffray untuk Indonesia sudah bulat yaitu MENJANGKAU INDONESIA melalui Penginjilan, Pendidikan dan Penerbitan.
Untuk menetapkan pusat pelayanan yang tepat, Jaffray segera mempelajari peta. Ia melihat bahwa kota pelabuhan Makassar sangat strategis secara geografis. Jaffray membayangkan kota itu seperti sebuah poros roda yang jari-jarinya kelak memancarkan terang Injil ke seluruh pelosok nusantara atau tanah air Indonesia. Akhirnya, pada bulan September 1930, Jaffray pindah ke Makassar dan menetapkan Makassar sebagai Pusat "C&MA" atau "KEMAH INJIL" yang pertama. Kantornya di rumah kediaman Jaffray sendiri, di Jalan Daeng Tompo No. 8. Di tempat inilah Jaffray meletakan fondasi dan mengembangkan ”sayap Injil” – ke seluruh Indonesia – dari Sabang di Sumatera sebelah barat sampai ke Merauke di Irian Jaya (Papua) sebelah timur.

Badan Pengurus Pusat

  • Ketua umum : Pdt. Paul Paksoal, M.Div
  • Sekretaris umum : Pdt. Sebinus Luther, M.Th.
  • Bendahara : Ari Moningka

Wilayah Pelayanan

GKII terbagi atas 11 Wilayah Pelayanan yang terdiri sebagai berikut:
  1. Wilayah Papua I berpusat di Jayapura; Ketua: Pdt. Karel Maniani, S.Th.
  2. Wilayah Papua II berpusat di Timika; Ketua Pdt. Niko Waker, S.Th
  3. Wilayah Papua III, berpusat di Enarotali; Ketua: Pdt. Yahuda Bunay, M.A.
  4. Wilayah Kalimantan Timur berpusat di Samarinda; Ketua: Pdt. Dhamus Imau, M.A.
  5. Wilayah Kalimantan Barat berpusat di Pontianak; Ketua: Pdt. Drs. Senan Beriang, M.Th.
  6. Wilayah Kalimantan Tengah/Selatan berpusat di Muara Teweh; Ketua: Pdt. Sukardi Ganan, S.Th.
  7. Wilayah Kalimantan Utara berpusat di Tarakan; Ketua: Pdt. Lasung Yused, M.Th.
  8. Wilayah Sulawesi Utara berpusat di Manado, Ketua: Pdt. Berty Kambey, M.A.
  9. Wilayah Indonesia Timur I berpusat di Makassar; Ketua: Pdt. Evan R. Kamasi, S.Th
  10. Wilayah Indonesia Timur II berpusat di Kupang; Ketua: Pdt. Zadrak Dupe, MA
  11. Wilayah Jawa Sumatera berpusat di Jakarta Utara; Ketua: Pdt. Philipus Kading, M.Th.

Sekretariat

Jalan Jambrut Kramat VIII No. 24
JAKARTA PUSAT 10430
Telp. 319.02510; Fax . 314.2148
Website: www.kemah-injil.org
Email: bphp@kemah-injil.org, gkiipusatjkt@yahoo.co.id

Statistik

  • Daerah Pelayanan : 90 Daerah
  • Jumlah Jemaat : 2.455 Jemaat;
  • Pos Penginjilan : 998 Pos;
  • Penganut : 507.083 Jiwa
  • Pekerja aktif : 3.161 Orang (Pendeta 2.187 – Vicaris 216 – Evangelis 2.758).

Referensi

Pranala Luar


Read More »
06.43 | 0 komentar